Rabu, 24 Februari 2010

jujur

Dalam sebuah acara diskusi di sastra, Seno Gumira pernah melontarkan wacana hobinya menonton bola. Menurutnya sepakbola saat ini adalah wahana paling jujur. Dia merasa tak ada acara lain sejujur permainan sepakbola, maka ia menikmati ketika menonton pertandingan sepakbola di televisi. Larut dalam emosi ketika pemain mencetak gol, tim kesayangan kebobolan, pemain kunci cedera, peluang terlewatkan, ramainya suporter, hingga ikut bertepuk tangan ketika pahlawan pertandingan keluar lapangan. Sekalipun yang nun jauh disana tidak langsung merasakan semangat yang dikirim dari timur jauh.

Sekali lagi adalah kejujuran, adalah barang yang harganya tidak bisa kita lihat. Hanya terasa. Dan semua menjadi blur ketika kaum materialis menekankan pahamnya. Karena jujur dahulu adalah sesuatu yang tidak bisa diukur dengan materi. Entah saat ini. Setidaknya aku masih tahu, bagaimana rasa gelisahnya jiwa saat bibir berucap dusta.

Rasa menjadi berharga. Ketika sudut 'rasa' mulai tak terasa. Ketika jiwa mulai kehilangan rasa. Ketika rasa telah berbandrol harga. Ada hal yang tak ingin hilang dari romantika dinamisnya jiwa. Bagaimana sedihnya nurani, ketika sulit bernyanyi karena rasa telah mati. Dari sini setidaknya kita tahu, ada nilai yang semakin blur karena invasi para kaum materialis.

Dan kita yang memutuskan akan dibawa kemana rasa ini.

Selasa, 16 Februari 2010

energi

Energi memang selalu menjadi rebutan. dalam konsep ekologi energi merupakan bahan dasar untuk mendapatkan hasil. Dalam antropologi pun, energi adalah alasan mengapa terjadi sebuah budaya baru hingga penemuan baru. tak semua menyadari itu, tapi memang energi penting untuk kita miliki. tapi untuk diperebutkan, entahlah.

Saat ini keterbatasan kita hadapi, entah mengapa sebagai praktisi pendidikan aku menyayangkan terbitnya UU BHP. Mungkin tak baik juga mengomentari sebelum mendalaminya. karena menurutku antropologi memahaminya sedikit lebih mendalam.
Berdasarkan pemberitaan media, banyak sekali kasus unjuk rasa oleh mahasiswa yang berujung kekerasan.
Aku rasa seharusnya ada masa dimana para pembuat kebijakan memikirkan tentang kenyataan yang dirasakan. Antropologi menyebutnya pendekatan emik. Pertanyaannya apakah memang relevan jika pendidikan “diserahkan” kepada swasta. Jika pembuat kebijakan adalah pihak yang berkepentingan dalam dunia pendidikan maka wajar dia melanggengkan aturan ini. Selain itu, lagi-lagi energi. mereka memiliki energi lebih dari para mahasiswa yang orang tuanya tak semua juga memiliki energi yang sama. Ada tingkat ekonomi bawah dan atas. Kecil kemungkinan pembuat kebijakan adalah golongan energi menengah ke bawah. Oleh karena itu mereka tak merasakan apa yang dirasakan para mahasiswa yang melakukan kekerasan tadi.
kekerasan mahasiswa disini adalah representasi dari tertekannya jiwa atas aturan. naluri dan alamiah.

dan aku bagian disana. tapi aku tak turut ke jalan atau hujat mereka. hanya bisa menulis.

sial.

nasib


sama - sama ingin menghasilkan yang terbaik,

sama - sama yang merencanakan yang terbaik,

sama - sama menjalankan yang terbaik,

sama - sama memiliki mimpi terbaik.

mendapatkan yang tak sama…


antropologi bahagia

cinta adalah konstruksi sosial. pernyataan ini diperuntukkan bagi manusia dengan manusia. tidak menyingkirkan unsur Tuhan disini. hanya saja hubungan antar manusia. dalam sebuah proses hubungan disosialisaskan dalam beberapa fase, mulai dari pendekatan, lantas hubungan tanpa ikatan hingga akhirnya memiliki ikatan. sempat terpikir olehku, ada beberapa pernyataan yang agak bersinggungan dan bahkan bisa saja dipersepsikan secara paradoks. ketika pernyataan jodoh ada di tangan Tuhan dan tidak akan berubah suatu kaum jika tidak dari kaum itu sendiri. jika dua pernyataan itu disandingkan, apa yang menajdi acuan.

konsep bahwa cinta adalah konstruksi sosial. sebuah bentukan yang tidak terjadi secara alami. bukan sebuah rasa yang terjadi begitu saja. pernyataan ini akan membuka mata para perempuan yang telah dibuat terbang melayang karena lelakinya menyebutnya cinta kepadanya telah ada sejak awal. secara materialis terjadinya cinta pun proses materi.

bahagia merupakan bentukan pula, bila dua insan telah terjadi sebuah kesinkronan dalam pengertian apa yang dilakukan akan berjalan. garis besarnya kupikir seperti itu. jadi bukan karena Tuhan memberikan kebahagiaan secara langsung. akan tetapi diraih dengan usaha insannya yang bekerjasama bagaimana meraih kebahagiaan untuk mereka. Mengagumkannya Tuhan, DIA tidak memberikan siapa yang akan bahagia, akan tetapi hanya menunjukkan kebahagiaan seperti apa.

jika terdapat pertanyaan perempuan tersenyum menggoda dan pangeran pun jatuh cinta. jika hidup bersama bahagiakah mereka. menurutku, bukan Tuhan yang memberikan kebahagiaan mereka. tetapi mereka berusaha mencapai kebahagiaan yang Tuhan tunjukkan. jika langgeng atau tidaknya. pun bukan karena Tuhan menentukan bahwa jodohnya bukan dengan pilihan Tuhan. bukan. tetapi karena pilihan dua insan tersebut bagaimana mempertahankan bahtera rumah tangganya. dan itupun terkait dengan waktu lamanya proses pendekatan. lamanya proses memang berpengaruh, tapi tak berarti yang sangat sebentar juga tak bisa langgeng.

bisa tanpa cinta. bisa tanpa lama. karena hanya pengertian intinya.

Rabu, 04 November 2009

lama tak menulismu di lembar halamanmu,. lama sekali,. dan sejujurnya aku lupa, seperti anak kecil yang lupa mainan lamanya setelah diberi mainan baru,. seperti mahasiswa yang lupa bahwa banyak tugas penting dibanding mengetik curahan hati di lembar ini,.
tapi aku tak perduli,. sekalipun tak ada inspirasi, aku selalu ingin bisa membuat sesuatu seimbang, termasuk hasrat menulismu hari ini,.
aku ceritakan padamu tentang hariku hingga saat ini ditulis,. sepagi tadi belajar untuk ujian tengah semester mata kuliah sisipan,. sisipan bukan berarti tak penting,. karena tak tertarik untuk belajar, maka kuputuskan menulis hafalan di lembar kecil sebuah kertas usang,. intinya mencontek,. hehe,.
ujian pun berlalu, tak terlalu merasa kehilangan walau tak bis mengerjakan soal ujian,. bukan itu masalahnya, tapi merasa sudah terlalu tua,. dan bukan saatnya untuk memikirkan hal seperti ini,.
bersama kawanku lanjutkan cerita di kantin siang ini,. lama kami tak bercengkrama, sombong - menyombong adalah hal biasa,. kami lelaki, senang bersama tapi tak takut untuk sendiri,. cerita tak jauh dari lelaki cerita perempuannya,. cerita tak jauh dari perjalanan laki-laki mencari jatidiri,. perjalanan tak jauh dari seberapa jauh para antropologi mencuri perhatian dunia kini,. ah,,. semua berlalu seperti biasa,.
asal kamu tahu, aku ingat mengapa menulis ini, karena kamu bisa jadi alasan pelarianku menajdi benar,. dan kulihat seseorang menjadi romantis dengan blognya,.
kita bersama,.haha

Sabtu, 14 Februari 2009

konsistensi

berangkat hari ini dimulai dari ajakan seorang kawan untuk turut serta dalam acara tanam lima ribu pohon. Bicara tentang tanam-tanaman, erat kaitannya dengan permasalahan kehutanan sekarang ini. Kehutanan Indonesia adalah salah satu sisi yang cukup diperhatikan belakangan ini. Dnegan berbagai fakta bahwa Indonesia sebagai salah satu penyuplai paru dunia maupun kagumnya akan kecepatan hilangnya hutan Indoneisa. Ya, itulah Indonesia. menarik.

Ada beberapa hal yang menarik dalam acara penanaman pohon. acara semacam ini bukanlah yang perdana maupun yang unik sekali. acara semacam ini telah mengalir dari berbagai elemen berbau ekologi. Penanaman seribu pohon, lima ribu pohon maupun satu pohon. Yang perlu dikajinya adalah bukan apa yang akan dihasilkan oleh pohon-pohon ini, karena masih terlampau jauh untuk memikirkan itu. Yang perlu dipikirkan adalah apa yang dilakukan setelah pohon-pohon tersebut ditanami oleh kita. dalam perbincangan dengans seorang penjaga kawasan konservasi, kesalahan pertama yang dilakukan dalam acara tersebut adalah minimnya tindak lanjut perawatan pohon tersebut. Umumnya pohon yang digunakan dalam acara semacam ini adalah pohon kecil. Menurut pemerhati acara semacam ini, pohon kecil tersebut belum bisa resisten terhadap lingkungan sekitar, tanpa bantuan dari luar seperti manusia maka pohon tersebut hanya tinggal menunggu waktu untuk menemui ajalnya. Pengetahuan umum ini yang seharusnya dimiliki oleh para pemrakarsa kegiatan penanaman pohon seperti ini. Hanya saja pertanyaan selanjutnya adalah, siapa yang akan melanjutkan perawatan terhadap pohon yang kita tanam tersebut. Jika jawabannya kita semua, hal tersebut adalah klise. dan bisa dipastikan tidak akan berjalan. dalam konsep sederhananya adalah tidak adanya kepentingan lagi disana. 

Sepertinya memang sebuah konsistensi dipertaruhkan oleh kita. Untuk sebuah tujuan memang ada yang dipertaruhkan. sebuah konsekuensi. tinggal kita pilih yang mana. idelalisme atau realisme.

Kamis, 05 Februari 2009

pertempuran

pertempuran tak hanya terjadi di luar. dalam diri pun terjadi. tak terlihat memang.

memasuki sebuah medan operasi, tak hanya mencerabuti stamina fisik, tetapi juga akal pikiran. kontak fisik, maupun kontak jiwa rentan terjadi. sering bahkan. permasalahannya adalah bagaimana mengambil keputusan dan memposisikan diri sebaik mungin agar mendapat sebuah posisi"aman". banyak sekali jalan yang terpikir dan terbayang, semuanya mengarah pada mendapatkan tempat"nyaman"secara cepat dan tepat. kesalahan sedikit akan mengacaukan pergerakan. hanya akan membuka jurang penyiksaan. seperti salah masuk pintu, dan yang terbuka zona penyiksaan.

alam bukan musuh yang harus dihadapi dengan lantang.